Pengaruh Pemberian Pseudomonas Kelompok Fluorescens SKM 2 dan Variasi Waktu Inokulasi Virus Terhadap Keparahan Penyakit Mosaik (Tobacco Mosaic Virus) pada Tanaman Cabai Besar (Capsicum annum L.)

Nurul Nurul, Noor Aidawati, Elly Liestiany

Abstract


Tobacco Mosaic Virus (TMV) adalah salah satu penyakit yang menyebabkan turunnya hasil cabai. Pengendalian TMV yang ramah lingkungan dan banyak diteliti adalah menggunakan agens hayati PGPR. Tujuan dari penelitian ini untuk menguji pengaruh pemberian  Pseudomonas kelompok  fluorescens SKM2 dan waktu inokulasi virus yang berbeda terhadap keparahan penyakit TMV pada abai besar (Capsicum annum L.) var. Hot Chilli. Penelitian ini menggunakan bakteri Pseudomonas kelompok  fluorescens SKM2 yang diberikan kepada tanaman cabai dengan perlakuan inokulasi yang berbeda-beda. Hasil penelitian menunjukkan pemberian PF SKM2 pada tanaman cabai besar dengan waktu inokulasi TMV yang berbeda dapat memperlambat masa inkubasi virus, menurunkan keparahan penyakit tetapi tidak mempengaruhi penghambatan virus terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun.


Full Text:

Untitled PDF

References


Agrios, G. N. 2005. Plant pathology. Ed ke-5. Academic Press. New York.

Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPTPH) Kalimantan Selatan. 2016. Perbandingan Luas Serangan OPT Tanaman Hortikultura Tahunan Kalimantan Selatan Tahun 2016/2015. Banjarbaru.

Baker, K. F. and R. J. Cook, 1974. Biological Control of Plant Pathogens, W. H. Freeman and Co., San Francisco, 433 pp.

Budiman, H. 2012. Studi Penggunaan Rizobakteria Dalam Mengendalikan Penyakit Keriting Kuning Pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L.). Skripsi. Fakultas Pertanian ULM. Banjarbaru. Hal. 40-44.

Chivasa, S., A. M. Murphy. M. Naylor, and J. P. Carr. 1997. Salicylic Acid Interfers with Tobacco Mosaic Virus Replication via A Novel Salicylhydroxamic Acid-sensitive Mechanism. Plant Cell. 9:547-557.

Cook, R.J., D.M. Weller, A.Y. El-Banna, D. Vakoch & H. Zank. 2002. Yield respond of direct-seeded wheat to rhizobacteria and fungicide seed treatment. Plant Dis. 86 :780-784.

Dermawan, R. dan A. Harpenas. 2010. Budidaya Cabai Unggul, cabai Besar, Cabai Keriting, Cabai Rawit dan Paprika. Penebar Swadaya : Jakarta.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. 2017. Data Produktivitas Cabai Besar. Provinsi Kalimantan Selatan.

Direktorat Jendral Pertanian Pangan dan Hortikultura. 1998. Pedoman Pengamatan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Jakarta.

Djikstra, J., C. P. de Jager. 1998. Practical Plant Virology Protocols and Excercises. Springer Berlin Heidelberg. New York. 458 p.

Figuiredo, M. V. B., Seldin, L., Araujo, F. F., Mariano, R. L. M. 2011. Plant Growth Promoting Rhizobacteria: Fundametal and Aplication. Dalam D. K. Maheswari (ed.) Microbiology Monograph 18: 21-43. Berlin: Springer Verlag Berlin Heidelberg.

Gallitelli, D. 1998. Prisent Status of Controlling Cucumber Mosaic Virus (CMV). In: Hadidi, A., R. K. Khetarpal, H. Koganezawa (eds.) Plant Virus Disease Control. APS Press. pp : 507-523.

Glick, B. R. 1995. The Enhancement of Plant Growth By FreepLiving Bacteria. Can. Journal Microbiol. 4:109-117.

Gray, E. J. & D. L. Smith. 2005. Intracellular and Ekstracellular PGPR: Communalities and Distinctions in the Plant-bacterium Signaling Processes. Soil. Biol. Biochem. 37: 395-412.

Hamida, R. dan C. Suhara. 2013. Pengaruh infeksi cucumber mosaic (CMV) terhadap morfologi, anatomi dan kadar klorofil daun tembakau cerutu. Buletin tanaman tembakau, serat & minyak industri 5 (1):11-19.

Kloepper, J. W. 1993. Plant Growth Promoting Rhizobacteria As Biological control Agent. P. 225-274. In F.B. Meeting, Jr. (Ed.). Soil Microbial Ecology, Applications in Agricultural and Environmental Management. Marcel Dekker, Inc. New York.

Nelson, L. M. 2004. Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR): Pospects for New Inoculants. Crop Manag 10:1094 [jurnal on-line]. http://www. Cropmanagement.org/10.1094. diakses pada tanggal 13 maret 2017.

Nurhayati. 1996. Pengaruh Umur Tanaman Cabai Terhadap Infekasi Campuran TMV, CMV, dan PVY. Skripsi. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Pracaya. 1994. Hama dan penyakit tumbuhan. Penebar swadaya. Jakarta.

Priwiratama, H., S. H. Hidayat., Widodo. 2012. Pengaruh Empat Galur Bakteri Pemacu Pertumbuhan Tanaman Dan Waktu Inokulasi Virus Terhadap Keparahan Penyakit Daun Keriting Kuning Cabai. Jurnal Fitopatologi Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hal 1-8.

Rahman, S. 2012. Studi Pengendalian Penyakit Tungro Dengan Bakteri Pseudomonas Kelompok Fluorescens. Skripsi. Fakultas pertanian ULM. Banjarbaru. Hal. 29-31.

Sari, C. I. N., R. Suseno, Sudarsono, M. Sinaga. 1997. Reaksi Sepuluh Galur Cabai Terhadap Infeksi Isolat Cucumber mosaic virus (CMV) dan Potato virus Y (PVY) asal Indonesia. Dalam Kusuma S. S. H. (Eds.). Prossiding Konggres Nasional XIV dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Palembang 27-29 Oktober 1997. Pp: 116-119.

Sastrahidayat, R. I. 2011. Epidemiologi Teoritis Penyakit Tumbuhan. UB Press Universitas Brawijaya. Malang.

Semangun, H. 1994. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Soesanto, L. 2008. Pengantar Pengendalian Penyakit Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sulyo, Y. 1984. Penurunan hasil beberapa varietas lombok akibat infeksi Cucumber Mosaic Virus (CMV) di rumah kaca. Laporan Hasil Penelitian Balai Penelitian Hortikultura Lembang 1982/1993.

Syamsidi, S. R., T. Hasdiantono., S. S. Putra. 1997. Ketahanan cabai merah terhadap cucumber mosaic virus (CMV) pada umur tanaman pada saat inokulasi. Dalam Kusuma S. S. H. (Eds.). Prossiding konggres nasional XIV dan Seminar Ilmiah.

Taufik, M., A. Rahman., A. Wahab., S. H. Hidayat. 2010. Mekanisme Ketahanan Terinduksi oleh Plant Growth Promotting Rhizobacteria (PGPR) pada Tanaman Cabai Terinfeksi Cucumber Mosaik Virus (CMV). J. Hort. 20(3): 274-283.

Taufik, M., A. H. Sarawa., A. Kiki. 2013. Analisis Pengaruh Suhu dan Kelembapan Terhadap Perkembangan Penyakit TMV (Tobacco Mosaic Virus) pada Tanaman Cabai. J. Agroteknos. 3.(2): 94-100.

Tjondronegoro, P. D., M. Natasaputra., A. W. Gunawan, M. Djaelani., A. Suwanto. 1989. Botani Umum. PAU Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Udayashankar, A. C., S. C. Nayaka., H.b. Kumar., C.N. Mortensen. H. Shetty, and H. S. Prakash. 2010. Establishing Inoculum Threshold Levels for Bean Common Mosaic Virus strain Blackeye Cowpea Mosaic Infection in Cowpea Seed. Afr J Biotech. 9(53):8958-8969. DOI: http://dx.doi.org./10.5897/AJB09.1066.

Van, L. L. C., P. A. Bakker., C. M. J. Pieterse. 1998. Systemic Resistence Induced by Rhizophere Bacteria. Phytopathology. 88:453-483.

Whipps, J. M. 2001. Microbial Interaction and Biocontrol in The Rhizospere J Exp Bot. 52:4 487-511.

Wintermantel, W.M, Kaffka, S. R. 2006. Sugar Beet Performance with Curly Top is Related to Virus Accumulation and Aage at Infection. Plant Dis. 90(5):657-662. DOI: http://dx. Doi.org/10.1094/PD-90-0657.

Yunianti, R. E. 2015. Uji Beberapa Pseudomonas Kelompok Fluorescens Dalam Meningkatkan Ketahanan Cabai Besar (Capsicum annum L.) Terhadap Infeksi Tobacco Mosaic Virus. Skripsi. Fakultas pertanian ULM. Banjarbaru. Hal. 29-30.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.